mari Ngeteh dulu…

Kedai Teh di dunia maya

Sejarah Texas

Mengetahui sejarah bangsa lain juga penting bagi kita dalam melihat masa lalu untuk diambil pelajarannya.  Disamping, tentu saja sejarah bangsa sendiri patut untuk diketahui terlebih dahulu karena menyangkut sejarah kita juga. Kali ini saya bermaksud membahas sejarah salah satu negara bagian (state) Amerika Serikat kepada teman ngeteh semuanya. Sambil mencicipi teh hangat menjelang tengah malam ini, kita obrolkan beberapa hal tentang state ini yang mungkin ada yang belum kita ketahui.

Texas yang kita sekarang, sebenarnya tidaklah sama dengan Texas jaman dahulu. Daerah yang disebut Texas pun berubah-ubah sepanjang perjalanannya. Saya pun beberapa waktu lalu baru mengetahui bahwa daerah ini dulunya pernah menjadi sebuah negara merdeka yang disebut Republik Texas. Pernah juga negara ini menjadi bagian dari Meksiko. Di wilayah ini, dikenal istilah “Six Flags over Texas”, karena ada 6 negara yang pernah mengklaim teritori ini.

Sejarahnya menarik untuk disimak karena pergantian status itu, menjadikan daerah ini mempunyai beberapa keunikan dalam beberapa hal.

Bendera Negara Bagian Texas sekarang (sumber: wikipedia)

Bendera Negara Bagian Texas sekarang.

Read the rest of this entry »

Filed under: Teh Kebudayaan

Duit

Hampir semua orang di Indonesia mengenal duit.  Semua kalangan memakai duit, apapun bentuknya, dan bagaimanapun caranya. Namun, tak sedikit pula yang belum mengetahui darimana asal istilah “duit”. Istilah ini agaknya lebih populer dari saudara bakunya, “uang”, karena beberapa bahasa daerah juga mengenal istilah “duit”.

Secara umum, duit adalah satuan koin Belanda yang setara dengan dua penny. Delapan duit ini setara dengan satu stuiver sampai jaman Peperangan era Napoleon. Jaman dahulu, sistem uang Belanda tidaklah berbasis kelipatan sepuluh (desimal). Namun, di jaman modern sekarang, setelah desimalisasi mata uang Belanda, istilah satu stuiver dipakai untuk menunjukkan sekeping lima sen. Sekarangpun, setelah pemakaian mata uang euro, satu stuiver menunjukkan lima sen euro. Kembali kepada duit, 160 duit menunjukkan satu gulden (jaman dahulu setara 20 stuiver).

Duit VOC di British Museum

Duit VOC di British Museum

Istilah duit menjadi merasuk kepada banyak kalangan di Indonesia (dan juga sekitarnya) karena peran serta VOC yang telah ada di Nusantara sejak tahun 1596 saat ekspedisi pertama yang dipimpin Cornelis de Houtman masuk wilayah Nusantara, yang mendarat di pelabuhan Banten sebagai pelabuhan utama Jawa bagian barat (saat itu Nusantara masih dalam bentuk kerajaan-kerajaan). Maka dari itu, orang Bantenlah yang pertama mengetahui duit. Kemudian, karena Cornelis berseteru dengan penduduk Banten dan Portugis, akhirnya dia menyingkir ke timur melalui pantai utawa Jawa, namun lagi-lagi berkonflik dengan penduduk setempat, yakni penduduk Sedayu sehingga menewaskan 12 awaknya. Namun, dengan kejadian ini, duit menjadi diperkenalkan di daerah Sedayu. Setelah peristiwa itu, Cornelis terus mencari daerah lain untuk berdagang, namun lagi-lagi Cornelis berkonflik dengan penduduk Madura yang mengakibatkan terbunuhnya seorang pemimpin di salah satu daerah Madura. Setalah peristiwa ini, Cornelis kembali ke Belanda dengan membawa rempah-rempah yang telah dinilai cukup untuk membawa banyak keuntungan. Akibatnya, secara tidak langsung, duit menjadi beredar pula di Madura.

Tahun berganti tahun, makin banyak kapal Belanda datang ke nusantara untuk membeli rempah-rempah, sambil mendirikan pos-pos VOC di Batavia (Jakarta), serta daerah-daerah lain di Hindia Timur (Indonesia) seperti Maluku dan Banda sambil menjalankan politik monopolinya. Hingga akhirnya pada tahun 1603, VOC mendapat ijin untuk mendirikan kantor perwakilan di Banten dan mengangkat gubernur jenderal pertamanya, yakni Pieter Both yang memilih pusat administrasinya di Batavia. Disamping itu pula, didirikan pula kantor-kantor untuk gubernur seperti Frederik de Houtman di Ambon. Dari sinilah era babak baru kolonialiasasi di Nusantara dimulai secara perlahan-lahan. Duit mulai beredar luas di masyarakat dan memudahkan VOC memegang kendali atas ekonomi.

Saya sendiri mempunyai sebuah koin duit tahun 1800-an namun saat itu dipakai kakek untuk kerokan dan sekarang entah dimana.

Add to FacebookAdd to DiggAdd to Del.icio.usAdd to StumbleuponAdd to RedditAdd to BlinklistAdd to TwitterAdd to TechnoratiAdd to FurlAdd to Newsvine

Filed under: Teh Kebudayaan

Ronggowarsito

Teman ngeteh, pernahkah mendengar nama Ronggowarsito?

Saya sendiri mengenal nama Ronggowarsito sejak kecil. Namun mulanya saya mengenalnya sebagai peramal karena orang-orang sering menyebut frasa “Ramalan Ronggowarsito”. Namun pandangan tersebut tidaklah sepenuhnya benar. Ronggowarsito adalah pujangga yang mempunyai batin yang peka dalam melihat tanda-tanda zaman.

Ronggowarsito adalah nama gelar dari Bagus Burham, Putra Yasadipura I. Gelar tersebut didapat dari Kasunanan Surakarta yang telah mengangkat beliau menjadi pujangga istana dengan gelar lengkapnya Raden Ngabehi Ronggowarsito, yang terjadi pada masa pemerintahan Paku Buwana VII. Jika kita menilik pranala mengenai Ronggorarsito ini, kita akan bisa menjumpai keadaan sosial dan peristiwa yang terjadi masa itu. Suasana itulah yang kemudian menjadi sumber karya-karya Ronggowarsito yang dengan ketajaman mata batinnya, diungkapkan pula kecenderungan-kecenderungan yang bisa terjadi jika keadaan tersebut dibiarkan. Inilah yang orang sebut sebagai ramalan.

Ranggawarsita

Ronggowarsito juga menerbitkan karya-karya berisi nasihat dari yang paling halus (misal: Serat Kalatida), sampai yang paling kasar (misal: Serat Wicara Keras) yang ditujukan untuk mereka-mereka yang berbuat menyimpang pada jamannya. Namun, jika kita telaah mendalam, nasihat itupun juga mengena pada jaman sekarang. Karya yang lain ada yang berisi wirid, cerita sejarah, serta ajaran nilai-nilai hidup. Karya Ronggowarsito pantas untuk dijadikan bahan bacaan dan telaah saat-saat santai dan ngeteh bersama keluarga karena terjemahan bahasa Indonesianya mulai banyak dibuat oleh orang-orang yang peduli pada nilai-nilai luhur adat ketimuran mengingat sekarang banyak sekali arus paham dan nilai barat yang mulai merasuki generasi penerus bangsa.

Add to FacebookAdd to NewsvineAdd to DiggAdd to Del.icio.usAdd to StumbleuponAdd to RedditAdd to BlinklistAdd to TwitterAdd to TechnoratiAdd to Furl

Filed under: Teh Kebudayaan

Mengenal Gamelan

Disadari atau tidak, makin hari, makin sedikit generasi muda yang mengetahui gamelan, apalagi sampai menyukainya. Padahal, gamelan adalah salah satu bagian dari budaya nusantara yang harus tetap hidup untuk membangun ciri khas Indonesia. Pengetahuan akan gamelan makin tergeser seiiring dengan perubahan selera kawula muda yang cenderung menyukai kesenian dari luar. Pilihan selera tersebut sebenarnya sah-sah saja, akan tetapi sungguh disayangkan jika beberapa tahun ke depan, suasana kesenian Indonesia menjadi bernuansa asing, di sisi lain kebudayaan lokal menjadi punah, tinggal menjadi sejarah saja yang dipelajari di bangku-bangku sekolah. Apalagi jika suasana justru terbalik, musik asli Indonesia justru dimainkan di negara lain. Persoalan baru bisa timbul.

800px-Javanese_Gamelan

Memang, tidak semua orang wajib untuk bisa gamelan, namun setidaknya tiap-tiap orang yang merupakan pewaris kebudayaan gamelan mengerti apa itu gamelan, dan tidak mencemooh warisan budayanya sendiri. Sehingga apabila ada teman dari tempat lain, pewaris kebudayaan ini bisa menjelaskan dengan benar, dapat memberti rujukan-rujukan untuk informasi lebih lanjut. Beberapa orang ada juga yang melestarikan gamelan dengan ikut berperan aktif dalam grup-grup gamelan. Tidak hanya di Indonesia, tapi tersebar juga di seluruh dunia seperti USA, Israel, Jepang, Australia, Argentina, UK, Belanda, dan sebagainya, yang bisa dilihat dalam International Gamelan Directories. Banyak diantara grup itu yang bukan grup orang Indonesia, melainkan mereka yang menaruh minat besar terhadap gamelan karena mereka mengetahui bahwa gamelan mengandung unsur seni yang sangat tinggi dan unik. Akankah nantinya mereka yang mewarisi salah satu budaya kita?

gamelan_gong_gede

Perkembangan internet memungkinkan orang bisa mengakses informasi hampir tanpa batas, oleh karenanya, selayaknya di saat-saat senggang, mereka yang ingin mengetahui gamelan, dapat mengunjungi situs-situs tentang gamelan untuk menambah wawasannya, sehingga rasa memiliki budaya itu tetap ada. Berikut adalah beberapa link yang biasa saya kunjungi untuk dibaca-baca walaupun kebanyakan, saya belum sepenuhnya memahami semua hal tentang gamelan yang ada di situ:

Semoga link diatas bermanfaat bagi teman ngeteh. Kiranya artikel-artikel yang ada disitu bisa disimpan didalam disk untuk keperluan pendidikan dan pengajaran. Apabila ada link lain yang berguna dan ingin dishare, bisa diinformasikan di sini. Lebih bagus lagi apabila situs tersebut berbahasa Indonesia.

Northern Illinois University

Add to FacebookAdd to NewsvineAdd to DiggAdd to Del.icio.usAdd to StumbleuponAdd to RedditAdd to BlinklistAdd to TwitterAdd to TechnoratiAdd to Furl

Filed under: Teh Kebudayaan

Sekilas Info

Ini adalah blog yang berisi obrolan ringan yang biasa kita bicarakan sambil ngeteh. Apapun dibahas di sini secara ringan dan santai.
Add to Technorati Favorites

Halaman Tetap

Ngeteh juga ada di:

Komunitas


Ikatan Alumni ITB
Ikatan Alumni ITB
Keluarga Mahasiswa ITB
Amateur Radio Club ITB
Himpunan Mahasiswa Elektroteknik ITB
blogger Nganjuk
digg.com

rumahblogger.com, rumahnya blogger indonesia!
digg.com
Other Language Blogs - BlogCatalog Blog Directory

Peracik Teh

Ade Bayu

Ucapan dari Peracik Teh

Waktu Ngeteh

January 2010
M T W T F S S
« Nov    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Yang berkunjung:

  • 3,287 hits

Ngeteh dalam pandangan

Interior suatu Gedung di Downtown Ft. Worth.

Dari sudut langit L.A.

Kita mesti melihat ke bawah.

Jalanan yang cukup rapi

Bahaya lantai ke 40

Miring

Nonton sapi harus bayar

Kafe siang hari

Pusatnya koboi

Di ujung jalan

More Photos