Monthly Archives: May 2010

Resiko

Teman ngeteh,

Kata yang baku dan tepat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dari terjemahan “risk” adalah risiko. Keterangan lengkapnya adalah:

ri·si·ko n akibat yg kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dr suatu perbuatan atau tindakan: apa pun — nya, saya akan menerimanya; dia berani menanggung — dr tindakannya itu

(sumber: http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/)

Namun, bukan itu yang hendak saya bahas dalam perjumpaan ngeteh kita kali ini. Saya bermaksud mengajak teman ngeteh sekalian memberbincangkan kata yang sering kita dengar dan tanpa sadar kita alami dalam kehidupan sehari-hari.

Apakah risiko itu? Banyak sekali definisi-definisi yang kita jumpai mengenai kata ini, apakah itu tertulis dalam buku teks, hasil pendapat orang, ataupun kesepakatan-kesepakatan ahli yang menangani risiko ini. Definisi yang bervariasi ini tergantung pada konteks keadaan dan situasi tertentu. Definisi ini bahkan bahkan tergantung dari disiplin ilmu apa yang membahasnya. Pada umumnya, risiko didefinisikan sebagai sesuatu yang merugikan, membuat celaka, mengakibatkan kejelekan atau hal buruk lain yang bisa terjadi, padahal apabila dicermati, risiko bukanlah hal yang selamanya buruk.

Pertama, mari kita tinjau definisi harfiahnya. Disarikan dari berbagai sumber, kata “risiko” berasal dari bahasa yunani rizikon (yang dalam abjad aslinya ditulis ριζα, baca: riza) yang berarti akar. Menurut saya, arti ini terdengar agak jauh dari makna sekarang. Abad pertengahan mengenal kata “risicum” yang berarti kerugian besar dan persoalan hukum. Bahasa arab mengenal “رزق”, (baca “rizk”) yang berarti mencari kesejahteraan atau rejeki. Kata ini diperkenalkan di Eropa melalui interaksi pedagang yang kemudian dalam bahasa Inggris, kata “risk” resmi muncul pada abad ke-17 dengan beberapa pergeseran makna. Penggunaan yang luas dari kata ini menyebabkan keambiguan dan ketidakkonsistenan yang mengakibatkan pula banyaknya pendapat mengenai cara menangani risiko ini yang dipelajari khusus dalam ilmu Manajemen Risiko.

Disamping ilmu manajemen risiko yang banyak dikenal luas masyarakat, terdapat beberapa metode formal lain untuk menilai, mengukur, dan mengatur risiko itu sesuai dengan kebutuhan dalam melakukan pembuatan keputusan (decision making) di bidang tertentu. Misalnya, kita dapat melihat para ekonom melakukan tindakan-tindakan dalam menangani risiko keuangan / finansial, baik dalam skala mikro maupun makro. Dalam hal ini, risiko didedinisikan sebagai sesuatu tak terduga dan tak pasti dalam keuntungan yang mencakup baik dalam keadaan lebih buruk daripada yang diduga, juga keadaan lebih baik dari yang diduga. Kemudian, dalam ilmu statistik, risiko dipandang sebagai peluang terjadinya suatu keadaan yang tidak diinginkan.

Dalam bahasa susah dalam teori keputusan statistikal, fungsi risiko dari suatu estimator δ(x) funtuk sebuah parameter θ, dihitung dari beberapa nilai yang dapat diukur x, yang didefinisikan sebagai nilai perkiraan dari fungsi kerugian L dirumuskan sebagai persamaan matematika:

Dalam ilmu keamanan informasi, risiko dianggap sebagai sebuah aset, ancaman kepada aset, dan kelemahan yang dapat dimanfaatkan oleh ancaman itu dalam mempengaruhi aset. Begitupun dalam ilmu kesehatan, mereka mengenal adanya risiko kesehatan. Jika kita cari, hampir dalam semua bidang kehidupan terdapat risiko dengan segala definisinya. Bahkan apabila berbicara dalam konteks kerohanian, meninggalpun, ada risikonya.

Berpikir dan menulis postingan ini, mengingatkan saya akan adanya risiko-risiko dengan segala definisi-definisinya. Apakah itu risiko yang timbul karena lokasi, posisi, peran, hubungan, kemampuan, dan sebagainya. Tentunya teman ngeteh juga mengalaminya baik disadari ataupun tidak. Risiko itu tidak untuk dihindari dan tidak pula untuk ditakuti karena risiko itu ada dimanapun berada. Namun risiko itu perlu dikenali, disadari, diukur, dan dipikirkan cara mengendalikannya.

Apakah risiko diri Anda yang sudah Anda kenali?


Nrimo (ilmu iklhas)

Teman ngeteh,

Salah satu ajaran jawa yang sering kita dengar adalah “nrimo ing pandum”. Secara harfiah, nrimo berarti menerima, ing berarti dalam, sedangkan pandum artinya pemberian. Sehingga terjemahan bebasnya bisa diartikan dan dipahami sebagai “menerima segala yang telah diberikan(Nya)”. Bisa jadi teman ngeteh mempunyai pandangan lain mengenai penerjemahan frasa tersebut.

Hal yang saya bahas dalam tulisan kali ini bukanlah mengenai arti itu sendiri melainkan hal lain yang tersimpan dalm kata tersebut.

Menerima (Nrimo) dapat kita pahami sebagai keadaan dan sikap yang terbuka, jantan, siap dengan konsekuensi, serta menjalani segala yang sudah menjadi resiko akibat sesuatu sebelumnya.
Orang yang tidak nrimo dapat ditengarai dengan sikapnya yang kurang terbuka alias ada yang ditutup-tutupi, yakni sikapnya tidak sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Orang yang tidak nrimo dapat kita jumpai juga pada sikapnya yang penuh protes, mengeluh pada keadaan, serta resah dalam menerima konsekuensi atas apa yang dia dapat.
Bukankah itu justru baik, yakni membuat orang makin berusaha?
Timbul pertanyaan lain, bukankah nrimo berarti pasrah dan kurang berusaha?

Teman ngeteh,
Jika kita mengukur segala hal hanya pada pencapaian duniawi saja, maka semua definisi-definisi duniawi bisa menjadi kabur. Contohnya adalah definisi kata “nrimo” ini.
Apabila rujukan adalah pencapaian karir dan kepemilikan harta. Maka sikap nrimo dapat diterjemahkan dengan silap orang yang mudah puas, asal cukup saja, kurang punya passion untuk maju. Atau jika rujukan adalah dalam pencapaian karir, maka nrimo bisa diterjemahkan sebagai sikap yang tidak punya ambisi menggapai puncak karir.
Teman ngeteh boleh setuju dan juga tidak. Apabila tidak sependapat, barangkali teman ngeteh adalah golongan orang yang merujuk pada hal non-keduniawian, yang mana nrimo bukan berarti mudah puas, namun mensyukuri apa yang telah didapat tanpa mengeluh dengan apa yang tidak didapat. Kemudian, nrimo diterjemahkan sebagai bersedia dengan siap terhadap posisi yang diamanatkan padanya tanpa mengganggu posisi yang tidak diamanatkan padanya (walaupun mungkin pada mulanya ingin di posisi itu).

Teman ngeteh,
Mungkin yang sependapat dengan saya akan berkata bahwa nrimo itu dapat diterjemahkan sebagai sikap iklhas. Ikhlas pada apa yang didapat, dan ikhlas pada apa yang tidak didapat.
Hal yang didapat bisa berupa pangkat, rejeki, jodoh, dan pemberian-pemberianNya yang lain. Sedangkan hal yang tidak didapat itu bisa berupa kehilangan, ketidakberhasilan meraih sesuatu, ataupun cobaan-cobaanNya yang lain.
Barangkali boleh jika saya bilang apabila melengkapi kalimat itu bahwa kita hendaknya “Nrimo ing pandum lan nrimo nalika ora kaduman” yang terjemahan bebasnya kurang lebih “ikhlas menerima saat mendapat sesuatu dan juga ikhlas menerima saat tidak mendapat sesuatu”.
Saya berpendapat dengan sifat itu, hati kita selalu sejuk tanpa menjadi dingin, pribadi kita selalu menyala tanpa membakar rusak segala yang mana bisa menghangatkan sekitar.

Semoga postingan ini dapat menjadikan renungan bagi kita sambil menikmati teh hangat.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.